-->

Resensi: Buku Cerita Remaja Islam (Ceris) "Hujan untuk Pelangi"



Inprasa.com, Pekanbaru - Siswa SMA Negeri 8 Pekanbaru, Trio Yudha Putra terpilih menjadi resensitor terbaik bulan Oktober 2018. Berdasarkan penilian Tim Literasi Inti Prima Aksara, Yudha berhasil meraih predikat sebagai RESENSITOR TERPILIH, dan berhak mendapatkan kejutan dan hadiah menarik dari penerbit PT. Inti Prima Aksara (INPRASA).

Profil Yudha, ditampilkan di Buku "Gerakan Literasi Sekolah" melalui kegiatan penulisan resensi, sebagai pelengkap kegiatan perpustakaan di sekolah.

Trio Yudha Putra, Siswa SMA Negeri 8 Pekanbaru, Resensitor Terpilih
Dengan buku "Penulisan Resensi" para siswa diharapkan menjadi peresensi (resensitor), membiasakan membuat ringkasan buku yang dibaca sebagai inti membuat resensi.

Penerbit INPRASA menerbitkan buku ini sebagai sarana pembiasaan membaca,  menulis, berpikir kritis, dan berlatih mengomentari karya orang lain sekaligus mampu memberikan penilaian objektif buku yang dibaca.

Resensi: Hujan untuk Pelangi

Buku Cerita Islami (Ceris) "Hujan untuk Pelangi"

Buku "Hujan untuk Pelangi", masuk dalam kategori buku Cerita Remaja Islami (Ceris), yang ditulis oleh Ainun Masruroh, seorang penulis muda yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai Juara I lomba Cerpen Se-Nasional, Festival Buku VII Nasional oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Institut (BEM-I) - Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Instika, Guluk-Guluk Semenep, Jawa Timur, tahun 2015.

Ainun juga pernah menyabet Juara I Lomba Cerpen Religi oleh penerbit Raditeens, dengan tema "malam terakhir tahun 2015", dua karya sebelumnya, Novel "Rumah Seribu Tiang" dan Cerpen "Dead At Heart".

Berikut, resensi buku "Hujan untuk Pelangi", peresensi, Trio Yudha Putra.

Pelangi

Kisah seorang siswi kelas XII, SMA Satu Nusa Bali ini sangat miris untuk dibaca. Peristiwa Bom Bali 2 tahun 2015 lalu, telah menghancurkan harapan hidupnya. Alisya Selfira Hanafi yang sering dipanggil Alisya, kehilangan ibundanya, ikut terkena bom bali 2. Akibat kejadian itu, ayah tercintanya mengalami syok berat, yang berakibat sangat membenci apa saja yang berbau "Kota Bali".

Saat kejadian bom Bali, Alisya baru berumur 7 tahun. Waktu itu, ayah dan mamanya pergi ke Bali untuk menghadiri pesta pernikahan keluarga. Nasib kurang baik menimpa ibundanya Alisya, ia ikut menjadi korban  bom Bali 2.

Kini, Alisya sudah  duduk di kelas XII, SMA di kota Jakarta. Ayahnya yang semula sangat ceria, sejak ditinggal bunda, menjadi murung. Ayah sebelumnya seorang penulis hebat, sekarang sangat membenci hal-hal yang berbau tulis menulis.

Kamar kerja ayahnya, yang biasa dipergunakan untuk menulis semasa ibundanya masih ada, dikunci rapat. Bahkan bertahun-tahun Alisya tidak mengerti apa yang ada dalam kamar itu. Ayahnya betul-betul membenci semua kenangan yang berkaitan dengan masa indah dengan ibundanya.

Akibat terlalu benci terhadap peristiwa bom Bali, teman Alisya bernama Fatih yang kebetulan berasal dari Bali yang pindah ke sekolah sama dengan Alisya ikut kena dampaknya. Ayahnya sangat benci Fatih, lantaran berasal dari Bali.

Suatu hari, di sekolah Alisya mengadakan lomba menulis, Alisya ditunjuk untuk mewakili sekolahnya. Alisya ingin mewarisi kehebatan Ayahnya. Alisya memasuki ruang kerja ayahnya yang sudah puluhan tahun tidak dibukanya. Ruangan itu tempat kerja ibundanya dan ayahnya saat menjadi penulis hebat waktu ibundyan masih ada. Tindakan Alisya yang memasuki ruang kerja Ayahnya tanpa izin membuat ayahny marah.

Kemarahan ayahnya dilampiaskan, mengurung Alisya di dalam kamar dengan cara mengunci dari luar. Tidak itu saja, ayahnya pergi meninggalkan Alisya dalam keadaan kamar terkunci. Saat pergi, ia membuang putung rokok yang apinya belum dimatikan.

Terjadi kebakaran rumah, Alisya tidak bisa keluar, Alisya pingsan terkurung dalam kamar. Fatih yang mengetahui peristiwa itu berusaha memadamkan api, tetapi api terlalu besar. Ayah Alisya pulang mendapati rumahnya sudah terbakar hebat. Ayah Alisya menerjang api, mencari Alisya yang terkunci dalam kamar. Nasib masih memihak pada Alisya dan ayahnya. Meskipun keduanya pingsan, berkat keberanian Fatih, kedua nyawa tertolong.

Kisah heroik perjuangan Fatih menyelamatkan Aisyah dan ayahnya dapat dibaca secara lengkap dan gamblang dalam buku cerita ini.

Kelebihan

Kelebihan buku ini, ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak berbelit-belit dan alur ceritanya sangat bagus. Desain cover sangat elegan, menarik, judul bukunya pun menimbulkan tanda tanya buat pembaca untuk mengetahui isi keseluruhan.

Kelemahan/Kekurangan

Kelemahan buku ini, terlalu banyak tokoh pembantu yang kurang aktif terlibat saat peristiwa heroik kebakaran rumah Alisya.

Buku ini layak dibeli, dimilik oleh remaja. Selain bukunya murah, buku ini bisa menjadi inspirasi siapa saja yang ingin bangkit dari musibah.

Demikian, resensensi buku oleh Yudha, selanjutnya sobat INPRASA juga bisa menjadi RESENSITOR buku, dan hasil resensi bisa diterbitkan di Blog INPRASA, www.inprasa.com, jika ingin jadi resensitor seperti Yudha, terpilih jadi resensitor terbaik, mendapatkan hadiah menarik dari penerbit INPRASA, menulislah resensi, dan tuangkan dalam buku ini.

Buku Kegiatan Resensi untuk SMA/SMK/MA
Bagi sobat INPRASA dimanapun berada, dari tingkat SD hingga Mahasiswa, dan sudah bekerja, boleh juga mengirimkan hasil resensi ke blog INPRASA, dengan cara mengirimkan foto buku, dan juga hasil resensi ke email: inprasaonline@gmail.com, bagi resensi yang layak terbit, akan mendapatkan hadiah menarik dari Penerbit PT. Inti Prima Aksara (INPRASA).

Baik, selamat meresensi Sobat INPRASA semua.. ditunggu hasil resensinya, ya?

Salam Literasi..!!

0 Response to "Resensi: Buku Cerita Remaja Islam (Ceris) "Hujan untuk Pelangi""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel