Sistem Pendidikan Indonesia Kacau, Muatan Akademik Lebih Banyak Daripada Penanaman Nilai-nilai Budi Pekerti


Sistem Pendidikan Indonesia Kacau, Muatan Akademik Lebih Banyak Daripada Pendidikan Nilai-nilai Budi Pekerti

Sistem pendidikan dasar di Indonesia saat ini perlu dibenahi dengan mengajarkan nilai-nilai integritas
Inprasa.com, Pekanbaru - Pendidikan nilai-nilai budi pekerti di tingkat pendidikan dasar, perlu diberikan porsi lebih dibandingkan muatan akademik. Hal ini disadari semua kalangan, baik para ahli pendidikan maupun tokoh masyarakat.

Penerbit dan percetakan, PT Inti Prima Aksara (Inprasa), melalui program kegiatan literasi hingga kini terus berupaya menggelorakan semangat literasi yang pada intinya, memperjuangkan nilai-nilai budi pekerti, menyiapkan generasi mendatang agar berakhlak mulia.

Menurut Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Profesor Hamdi Muluk, pendidikan dasar di negeri ini harus dibenahi dengan menempatkan pendidikan karakter sebagai titik tekan.

Hamdi mengatakan, di tingkat pendidikan dasar yang diperlukan adalah mengajarkan nilai-nilai integritas yang didalamnya mengandung kejujuran, bertanggung jawab, konsisten, nilai-nilai kemandirian, dan nilai-nilai persatuan yang mengajarkan toleransi, hormat menghormati, sopan santun kepada yang lebih tua.

"Pendidikan nilai-nilai inilah sebenarnya yang akan membekali orang untuk menghadapi dunia nyata, apa yang sering juga disebut sebagai life skills," ujar Hamdi dalam siaran persnya, dikutip dari antara selasa, 26 Februari 2019.

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Profesor Hamdi Muluk
Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Profesor Hamdi Muluk

Menurutnya, setelah nilai-nilai itu tertanam dengan baik dan menghasilkan karakter yang kuat maka anak baru mulai diajari menguasai keterampilan skolastik seperti membaca, berhitung, berbahasa, dan ilmu pengetahuan. Bukan justru sebaliknya.

"Sistem pendidikan dasar kita ini agak kacau. PAUD, TK, dan SD lebih banyak muatan akademiknya ketimbang pendidikan nilai-nilai budi pekerti," papar Hamdi.

Dengan pendidikan dasar seperti sekarang tak mengherankan muncul berbagai tindakan tak pantas dari anak sekolah seperti tawuran, bullying, hingga melakukan kekerasan kepada guru. Kejadian ini, diperparah dengan pengaruh lingkungan dan ketiadaan teladan dari tokoh-tokoh yang semestinya memberikan contoh yang baik.

Menurut Hamdi, pembenahan pendidikan dasar dan pendidikan karakter bagi generasi muda perlu diperkuat. Dia berharap pendidikan agama lebih mencerahkan anak-anak untuk menghargai kehidupan yang lebih demokratis, toleran, hormat menghormati, rahmatan lil alamin. Bukan sebaliknya, malah diberikan doktrin kaku halal atau haram, kafir, sesat, dan sebagainya.

"Ini supaya anak-anak tidak tumbuh dengan fanatisme agama yang ekstrem karena ini yang menjadi bibit-bibit radikal teroris di masa depan. Guru-guru agama juga perlu ditatar ulang agar dapat mengajarkan kepada muridnya nilai-nilai agama yang santun dan menghargai antarumat," ujarnya.

Sobat Inprasa, gerakan literasi yang diinisiasi tim literasi Inprasa merupakan wujud nyata kegiatan mendorong semua kalangan untuk terus berupaya menggelorakan semangat literasi, dengan begitu diharapkan generasi mendatang benar-benar siap menghadapi tantangan perubahan zaman.

Penerbit Inprasa menyiapkan produk buku-buku untuk mendorong program gerakan literasi nasional, seperti buku panduan penulisan sinopsis untuk tingkat SD/MI dan SMP/MTs, dan buku penulisan resensi untuk SMA, serta buku kegiatan literasi di bidang keagamaan, Allama Bil Qolam untuk mengaplikasikan nilai-nilai kandungan Al quran, Juz 30.

0 Response to "Sistem Pendidikan Indonesia Kacau, Muatan Akademik Lebih Banyak Daripada Penanaman Nilai-nilai Budi Pekerti"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel