-->

Cerpen: Berkah Sedekah Nisa


Cerpen: Berkah Sedekah Nisa

Nisa anak yatim, ibunya men1nggal saat Nisa masih berumur 9 tahun. Ayah kandung Nisa bercera1 dengan mamanya saat Nisa baru berumur 1 tahun delapan bulan.

Setelah Mamanya men1nggal, Nisa diasuh Bibinya. Tidak selang lama, Bibinya juga men1nggal dunia, sedih sekali hati Nisa jika ingat waktu
kecil.

Sekarang Nisa diasuh Pak Fredi dan Ibu Hana, kebetulan keluarga Fredi dan Bu Hana belum dikaruniai anak. Nisa termasuk anak yang beruntung, karena diasuh Ayah dan Ibu angkat yang sangat baik.

Namun, Nisa kadang-kadang sering teringat masa kecilnya, di saat ia bermain bersama Ayah
kandungnya. Iri rasanya jika Nisa melihat teman-teman pulang sekolah dijemput Ayahnya.

“Oh udahlah, itu masa lalu, yang penting Nisa bisa belajar,” kata Nisa.

“Mudah-mudahan Novi tidak menghinaku lagi, aku dah berhasil mendapatkan tanda tangan dari
Bapak,” nyletuk lagi pikiran Nisa teringat saat dikata-katain Novi, kalau Nisa adalah anak
pungut.

Novi setiap pergi sekolah diantar Ayahnya, di kelasnya Novi termasuk anak yang sombong. Novi sangat royal saat jajan di kantin sekolah, jika jam istirahat ada teman yang kebetulan sedang jajan di kantin sekolah, Novi selalu yang membayarnya.

“Ojaan sinih!,” kata Novi memanggil Fauzan teman sekelas yang kebetulan sedang jajan di kantin sekolah.

“Ada apa Vii?,” saut Ojan, sambil mendekat.

“Coba selidiki!, si Nisa sekarang kok lancar tanda tangan kartu dari bapaknya!, ada apa
yaah?," kata Novi.

“Tak taulah.... bukan urusan gua, emangnya ada apa?,” saut Ojan.

“Tidak apa, kok aneh gitu,” kata Novi.

“Emangnya yang aneh dimana? kan Nisa menghafalnya lancar, saya juga lancar, teman
yang lain juga lancar, asal udah hafal pasti lancarlah,” seru Ojan.

“Giniii...Jan Ojan, maksudku... kemarenkan sampai tujuh surat, bahkan delapan surat
yang sudah dihafal Nisa, Ayahnya baru mau tanda tangan, sekarang kok setiap hafal
satu surat Ayahnya langsung mau tanda tangan, itu yang mau saya selidiki,” ujar Novi.

“Memangnya ada apa sih kok Novi segitunya perhatian terhadap Nisa... udahlah, yuk
kita masuk,” kata Ojaan sambil jalan ke ruang kelas Novi dan Ojan masih saja ngobrol
soal Nisa.

“Ojan, ni.. uang seratus ribu buat Ojan!,” kata Novi.

“Uang apaan?,” kata Ojan

“Uang bensin,” kata Novi

“Bensin apaan?,” kata Ojan

“Biaya ngutit si Nisa,” kata Novi

“Ha.. haha..,” oke Boss

“Seminggu harus dapat info lho yaa!” kata Novi

“siaaap booos,” saut Ojan.

Suatu hari, Nisa memberi sedekah kepada pengemis yang sedang meminta di tepi jalan.

Nisa sebenarnya tidak tega melihat pengemis yang tiap hari mangkal di situ. Tempatnya
di tepi jalan, sangat rame kendaraan, sempit, sangat bahaya. Nisa kuatir pengemis
tertabrak motor. Saat Nisa memberi sedekah pengemis teringat Ayah kandungnya.

“Seandainya ayah ada didekatku... aku minta ke Ayah untuk memelihara pengemis itu,
pasti ayah mau, tapi sejak Bibi men1nggal, dan aku diasuh Bu Hana, aku tidak tahu Ayah
pindah kemana,” lamunan Nisa mengenang ayah kandungnya.

Pulang sekolah Nisa menghampiri pengemis, Nisa memberikan sisa uang jajan sekolah. Saat Nisa mengasih uang, Ojan memperhatikan dari jauh.

“Sedang apa itu si Nisa.., ooh kasih uang kayaknya, padahal di sekolah Nisa jarang jajan, kok bisa kasih sedekah sama pengemis itu, dari mana uangnya?” kata Ojan dalam hati.

“Pak.... sudah makan?,” kata Nisa

“Belum, nak,” kata pengemis

“Pak ini Nisa kasih uang, sisa uang jajan Nisa, nanti buat beli makan, ya Pak!,” kata Nisa

“Terima kasih, nak,” kata pengemis sambil memasukkan uang pemberian Nisa ke dalam saku bajunya.

Tiga hari kemudian

“Vii, Novi tunggu!,” kata Ojan

“Ada pa?, dah ada info buat aku?,” kata Novi

“Sini!,” kata Ojan sambil menepi di sudut sekolah agar tidak diketahui teman yang lain.

“Kemaren, aku lihat Nisa memberi uang kepada pengemis, itu pengemis yang mangkal di Jalan Sudirman dekat kampus,” kata Ojan

“Emangnya ngapa dia?,” kata Novi

“Ye ilee, katanya suruh nguntit Nisa!,” kata Ojan

“Begok kamu Jan, maksudku untit di rumahnya, bukan di jalan, aaah gimana kamu nii, tidak nyambung,” kata Novi.

Besoknya Ojan pergi ke rumah Nisa.

“Nisa, boleh sore ini aku main ke rumahmu?, aku pingin lihat alat untuk senam di rumah,” kata Ojan

“Boleh, tapi bapak dan ibuku tidak ada di rumah, beliau pulangnya jam 5 sore, gimana?,” kata Nisa

“Tidak apa, atau habis sekolah aku ikut bersamamu?,” kata Ojan

“Boleh juga,” kata Nisa.

Setelah pelajaran sekolah berakhir keduanya pulang bersama naik oplet dan turun di persimpangan jalan dekat rumah Nisa.

“Ojan, tunggu bentar, aku mau kasih uang jajanku kepada bapak itu,” kata Nisa

“Aku ikut,” kata Ojan

“ayuuk!,” kata Nisa

“Siang pak, udah makan?,” kata Nisa

“Sudah, nak..,” kata pengemis

“Pak, ada sedikit uang jajan Nisa, buat makan sore, yaa Pak?,” kata Nisa

“Terima kasih, nak..,” kata pengemis

“Sama-sama, Pak..,” kata Nisa, sambil meninggalkan pengemis.

Pengemis teringat putrinya, Eka Khairun Nisa. Putrinya berpisah dengannya karena bercera1 dengan istrinya. Mantan istrinya kawin lagi dengan pejabat, namun tidak lama, pejabat itu tertangkap polisi karena korupsi. Akhirnya ia dimasukkan penjara. Setelah itu Eka Khairun Nisa tidak terurus, dan mamanya mulai sakit-sakitan.

Eka Khairun Nisa waktu masih berumur 1 tahun, sering dipanggil Eka oleh ayahnya. Ayahnya
dulunya seorang pengusaha garmen, karena dikhianati mantan istrinya yang bekerja sama dengan pejabat yang jadi suaminya sekarang. Akibat ulah mantan istrinya itu, pabriknya jadi bangkrut. Sejak Eka pindah ke luar kota, ayahnya tidak tahu kabar beritanya.

Sejak perusahaannya bangkrut, Ayah kandung Nisa jadi pengemis, hidup sendirian, ia hanya berharap belas kasihan dari orang yang mau bersedekah kepadanya.

Suatu hari, saat jalan raya sangat ramai, ada kecelakaan lalu lintas, kecelakaan tepat di depan pengemis. Korbannya seorang Ibu, kira-kira berumur 50 tahun, namaya Umi Nurita.

Meskipun seorang pengemis, ternyata pengemis itu sangat baik budi pekertinya, saat ada kecelakaan pengemis berusaha menolong dengan cara sekuat tenaga, dengan cara menyetop semua kendaraan agar tidak melaju dengan kencang.

Pengemis menghubungi polisi agar cepat datang sehingga korban cepat mendapat pertolongan, dan pada saat itu pengemislah yang menemani Ibu Nurita dalam ambulan menuju rumah sakit. Pengemis menunggui sampai ibu Umi Nurita sadar, setelah ibu Nurita sadar pengemis mohon pamit untuk pergi.

Ibu Umi Nurita ternyata mamanya Novi, teman sekolah Nisa. Saat itu murid-murid di kelas Novi menjenguk mamanya Novi di rumahnya.

Waktu menjenguk mama Novi, mamanya bercerita, bahwa pada saat kecelakaan ia ditolong oleh seorang pengemis.

Waktu ibu Umu Nurita bercerita Nisa agak kaget, dan bertanya dalam hati “apakah pengemis itu yaa.. yang dimaksud?”

Papa Novi pun akhirnya ingin menjemput pengemis itu untuk di bawa kerumah Novi, rencananya pengemis itu mau di kasih hadiah.

“Siapa yang tahu tempat pengemis itu mangkal?, ” kata pak Herman papanya
Novi.

Suasana hening, Novi, Ojan, dan teman yang lain tidak ada yang tahu.

“Saya tahu, Pak” kata Nisa.

“Bisa antar Bapak ke pengemis itu? Bapak akan kasih hadiah,” kata Bapak Herman, Ayah Novi.

“Bisa pak, sekarang?” kata Nisa.

“Yaa sekarang!,” kata Pak Herman.

Akhirnya, Pak Herman pergi menjemput pengemis itu untuk dibawa ke rumah Ibu Umi Nurita.

Akhirnya, pengemis itu sampai di rumah pak Herman. Pada saat berbincang-bincang soal kecelakaan, pengemis tadi melihat foto yang mirip dengan foto yang dipasang di kantornya dulu, pada saat ia masih sukses menjadi pengusaha tekstil.

Foto yang tergantung di dinding rumah ibu Nurita seperti foto keluarganya, ada di foto itu dirinya
dengan adiknya Nurita, waktu itu mereka masih anak-anak.

“Pak kok bengong, ayo diminum!,” kata pak Herman.

“Iya paak terima kasih,” kata pengemis.

“Nama Bapak, siapa?,” kata Ibu Umi Nurita.

“Maaf, nama saya Wahyudi, Bu..,” kata pengemis.

“Oooh... seperti nama Kakak saya, kalau Kakak saya namanya Muhammad Wahyudi,” kata ibu Umi Nurita.

Pengemis diam dan berpikir, jangan-jangan yang ada di depannya adalah adiknya yang tiga puluh tahun lalu berpisah dengan dirinya.

Adiknya berpisah lantaran ada bencana gunung meletus disertai banjir bandang yang meluluh lantahkan desanya.

Ibu dan Ayahnya jadi korban keganasan letusan gunung berapi dan banjir bandang, sedangkan dirinya dan adiknya Umi Nurita terpisah tidak tahu dimana berada.

“Pak, boleh saya bertanya?,” kata Wahyudi. “Foto yang tergantung itu fotonya siapa?”

“Oooh itu foto keluarga istri saya, saat ia masih kecil,” kata Pak Herman

“Boleh saya melihatnya lebih dekat?”

“Boleh-boleh” kata pak Herman, sambil jalan untuk mengambil foto untuk diserahkan ke Pak Wahyudi.

“Ini, Pak Yudi,” kata Pak Herman. Setelah mengamati sejenak mata Pak Wahyudi
berlinang air mata.

“Ada apa dengan foto itu, Pak..,” kata Pak Herman

“Saya teringat adik saya, Pak..”

“Memangnya, Pak Wahyudi punya keluarga atau Adik?,” kata Pak Herman.

“Iya, Pak.. namanya Dewi Umi Nurita, saya sering panggil Dewi waktu itu,” jawab Pak Wahyudi.

Pada saat Bapak Wahyudi menceritakan tentang keluarganya, ibu Nurita mendengar dan dia
juga merasa bahwa mempunyai kakak bernama Muhammad Wahyudi, cuma kabar terakhir yang ia dengar kakaknya jadi pengusaha garmen, karena kesibukannya belum sempat bertemu.

Selain kesibukan, mereka terpisahkan oleh jarak yang jauh, terakhir kalinya kabar yang ia terima, ia sedang berlibur ke Candi Borobudur, pernah mengirimkan foto ke dirinya. Saat itu kakaknya menceritakan kondisi rumah tangganya, bahwa istrinya minta cera1, lantaran usahanya bangkrut.

Perusahaan mengalami kebangkrutan akibat ulah istrinya. Sejak itulah tidak tahu kabar beritanya. Akhirnya, Ibu Umi Nurita berusaha nimbrung atau ikut membahas tentang foto itu.

“Pak Yudi, sepertinya kisah Bapak ada kemiripan dengan kisah saya, bentar...bentar, saya tanya,” kata ibu Umi Nurita, sambil mendekat arah pak Yudi.

“Nama bapak lengkapnya siapa?,"

“Nama lengkap saya, Muhammad Wahyudi, Bu..”

“Adik bapak namanya siapa?,”

“Namanya Dewi Umi Nurita, biasa saya panggil Dewi, saya berpisah 45 tahun yang lalu,” dengan air mata berlinangan, Pak Wahyudi bercerita.

“Berarti pengemis ini, Abangku Pak.., yaa, Allah kamu abangku, kamu Muhammad Wahyudi abangku, Pak..,” sambil merangkul Pak Wahyudi menangis sejadi-jadinya.

Novi, Ojan Nisa dan teman-teman lainnya tidak tahu apa yang terjadi di ruang tamu, akhirnya teman-teman Novi nengok ke ruang tamu, pingin mengerti apa yang sesungguhnya terjadi.

Nisa : “ada apa mamamu dan pengemis itu Vii?”

Novi : “tidak tahu”

Ojan : “ kayaknya aneh deh”

Novi : “Biar aku kesana, kalian disini dulu, biar saya cari tahu, ada apa”

Novi turun dari lantai 2 di rumahnya menuju ruang tamu di lantai 1.

Novi : “ada apa paah mama?”

Pak Herman : “itu pengemis tadi, bernama Bapak Muhammad Wahyudi”

Novi : “memangnya kenapa?”

Pak Herman : “ itu pak Muhammad Wahyudi ternyata kakak mamamu, yang sudah berpisah 45 tahun yang lalu”

Novi : “ooooh, kok bisa?”

Pak Herman : “yaitu tadi yang dibahas antara mamamu dengan pak Wahyudi”

Novi bingung melihat antara mamanya dengan pengemis yang menurut papanya bernama Muhammad Wahyudi. Keduanya berangkulan sambil menangis haru atas pertemuan itu.

Setelah melepas rindu dan yakin kalau keduanya Kakak Beradik, Ibu Nurita duduk mendekat Pak Herman, dan berkata “Novi ambilkan minum mama dan ambil roti di almari, buat Pakdemu,”.

“Baik, ma..,” kata Novi.

Setelah itu, Ibu Umi Nurita bertanya lagi ke Bapak Wahyudi kakaknya “Kak.. terus keluargamu sekarang dimana? dan bagaimana kakak bisa seperti ini?,” sambil mengusap air mata.

Sehabis minum air putih, Pak Wahyudi berkisah, bahwa dua puluh tahun yang lalu ia menandatangani cek kontan beberapa lembar, cek itu diserahkan ke istrinya dan cek itu rencana akan digunakan untuk membayar bahan baku tekstil, cemikal dan biaya operasional pabrik.

Pada saat itu, aku ada seminar dan kunjungan keluar negeri, saya tidak berpikir buruk kepada istriku, ternyata oleh istriku cek itu dananya dipakai untuk foya-foya bersama pejabat.

Akhirnya, dana dalam rekening itu habis, dan cek yang saya serahkan ke istriku diberikan ke suplier kosong, tidak ada dananya.

Sewaktu saya pulang dari luar negeri, saya di penjara dengan dalih penipuan, saat itulah perusahaan mulai bangkrut. Pada saat perusahaan sedang kacau, istriku minta cera1.

“Ooh, gitu ceritanya, terus anakmu yang dulu, terakhir kakak ajak ke Candi Borobudur itu gimana dan dimana sekarang?,” tanya Ibu Umi Nurita.

 “Anak itu terakhir kalinya diasuh oleh bibinya ibu Wijiningsih namanya. Mamanya Eka, men1nggal saat dia umur 9 tahun, waktu itu dia duduk di kelas 4 SD, dan dua tahun kemudian bibinya Wijiningsih men1nggal dunia, sedangkan Papa tirinya masuk penjara karena korupsi."

“Waktu saya dipenjara, saya tidak tahu, siapa yang mengasuh Eka sampai saat ini. Kakak
sekarang jadi pengemis, lantaran sudah tidak ada lagi aset yang tersisa, semuanya disita
bank dan dijual mantan istriku, entah dipakai untuk keperluan apa saya juga tidak
tahu.” Kata Bapak Wahyudi.

“Kan kakak punya keahlian jadi pengusaha kena apa mau jadi pengemis?,” kata adiknya Umi Nurita.

“Tidak tahu aku, dik, yang jelas aku pingin menemukan anakku Eka Khairun Nisa dengan
cara mengemis, kakak berharap bisa bertemu anak itu,” kata pak Wahyudi.

“ Lha, memangnya kakak tahu siapa yang mengasuh dia, dan dimana sekarang Eka tinggal?”

“Sewaktu aku berkunjung ke rumah Bibinya yang sudah almarhum, ada tetangganya yang bilang Eka Khairun Nisa diasuh oleh seseorang yang berasal dari kota Pekanbaru, namanya Bapak Fredi dan istrinya Bu Hana, cuma mereka tidak tahu alamatnya."

"Waktu Eka masih kecil, kakak mengajarkan kepada Eka supaya menyantuni orang miskin, sebab di harta orang kaya disitu ada hak orang miskin. Sewaktu dia umur 1,5 tahun tiap hari dia selalu minta uang jajan ke kakak, ia sangat aneh uang jajan yang ia minta ke ayahnya bukannya untuk jajan, melainkan diberikan kepada orang miskin. "

"Kakak berharap, anak itu masih berperilaku seperti itu, kakak dari Jawa ke Pekanbaru tanpa bekal apa-apa. Dengan menjadi pengemis di jalan raya, berharap anak itu datang menghampiriku dik,” cerita Pak Wahyudi sambil menangis.

“Terus gimana kakak bisa tahu kalau itu anakmu?,” kata Bu Nurita.

“Kata tetangga Bibinya (yang sudah almarhum), saat Eka dibawa ke Pekanbaru, dia dibawain foto-foto Ayahnya (fotoku) dan foto-foto Eka saat masih kecil dan foto waktu dia jalan-jalan ke Borobudur, kakak berharap anak itu masih menyimpannya,” kata Pak Wahyudi.

“Oh yaa-yaa, aku ingat... Kakak kan pernah kirim foto Kakak bersama Eka ke aku... bentar, Umi cari di album foto,” kata Umi Nurita.

Saat Ibu Nurita membawa album berisi foto-foto, ada satu foto yang memuat foto Pak Wahyudi yang sedang menggendong Eka Khairun Nisa, “lhaa, ini dia fotonya... ketemu.. ini kan kak fotonya?”

“Oh, iyaaa, yaa ini fotonya” kata Pak Wahyudi.

Saat keluarga Novi mengamati foto dalam album, Nisa ikut memperhatikan perbincangan mereka. Bahkan Nisa tadi mendengar perbincangan tentang anaknya Pak Wahyudi yang bernama Eka Khairun Nisa.

“Nama itu kan nama lengkapku, jangan-jangan aku yang dimaksud,” pikiran Nisa mulai gundah, yang lebih membuat hati Nisa dag dig dug gemetaran, jangan-jangan pengemis itu ayahku. Nisa gelisah... keringat dingin keluar... kayak mau pingsan rasanya.

Novi : “teman-teman turunlah!, kenalkan ternyata pak Wahyudi, Pakdeku, Kakak Mamaku,”

Ojan, dan teman-temannya turun dari lantai dua menuju ruang tamu, kecuali Nisa, ia menangis di atas sendirian. Nisa sudah mendapat kepastian pengemis itu adalah Ayahnya, kepastian itu diperoleh dari perbincangan antara Ibu Umi Nurita, Pak Herman dan Bapak Muhammad Wahyudi.

Keyakinan itu bertambah, karena adanya foto dalam album Umi Nurita sama persis dengan foto yang ada pada album dirumahnya, di Hp Nisa juga ada foto persis seperti pada album bu Umi Nurita. Itu berarti Eka Khairun Nisa yang disebut sebut pengemis tadi adalah dirinya.

Novi : “kenapa Nisa menangis?... turunlah... kita ke sekolah lagi” seru Novi sambil naik ke lantai 2.

Nisa : “Novi... Novi... itu Ayahku!... itu Ayah kandungku...!”

Novi : “Apa? apa..? Ayahmu?,” bentak Novi

Nisa : “Berikan Hpku pada Mamamu!, perlihatkan foto ini, ini foto kecilku bersama
Ayah, pengemis yang menolong mamamu,” Nisa menangis sejadi jadinya.

Novi: “Ma.. Ma.., lihat foto Nisa ini, Ma..!,” sambil turun membawa Hp yang ada foto Nisa bersama ayahnya diwaktu kecil.

Ibu Umi Nurita, Pak Herman, Novi dan Pak Muhammad Wahyudi membandingkan foto di Hp dengan yang di album foto bu Nurita sama persis.

Pecahlah tangisan Bu Umi Nurita, Bapak Muhammad Wahyudi dan Nisa saat itu.

Nisa tidak sanggup turun tangga untuk sembah sujud ke Ayah kandungnya yang selama ini dirindukan.

Nisa merasa bersalah, pengemis yang selama ini ia temui ternyata ayahnya.

Pak Wahyudi pun tak sanggup naik tangga menemui Nisa, lantaran haru mendapat keberkahan dari Allah SWT yang telah mempertemukan dirinya dengan adik dan anak satu-satunya.

Akhirnya, Pak Herman naik ke lantai 2, menuntun Nisa untuk dipertemukan dengan Ayahnya di ruang tamu, meskipun dalam keadaan lemas Nisa masih sanggup menapakki tangga sampai lantai 1 menuju ruang tamu.

“Ayaaah.... Ayaaah maafkan aku, Ayaaah..” menangis meraung raung sambil merangkul Bapak Muhammad Wahyudi.

“Maafkan, Ayah ya.. nak, Ayah telah menelantarkan Nisa...”

Novi: “Nisa...Nisa...Novi minta maaf, ternyata Nisa kakak Novi, selama ini Novi selalu menghina Nisa,” sambil berlangkulan bertiga, yakni Nisa, Novi dan Bapak Wahyudi.

Suasana sangat haru, teman-teman Novi satu kelas yang sedang menjenguk Ibu Umi Nurita yang sedang sakit ikut serta menangis.

Setelah kejadian mengharukan dan membahagiakan itu, Novi, Nisa, Ojan dan teman yang lain sangat kompak di sekolah.

Meskipun Nisa telah menemukan Ayah kandungnya, Nisa tetap hormat dan sayang dengan Bapak dan Ibu angkatnya (Bapak Fredi dan Ibu Hana), sedangkan Ayah kandung Nisa (Pak Muhammad Wahyudi), ternyata masih mempunyai simpanan apartemen di Bogor yang dirahasiakan, karena akan diperuntukkan untuk Nisa jika Nisa sudah dewasa kelak.

Penulis: Mustajab Hadi

0 Response to "Cerpen: Berkah Sedekah Nisa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel