-->

Peran Literasi Dalam Kemandirian dan Ketahanan Bangsa



Banggalah menjadi Bangsa Pencipta, dan malulah menjadi Bangsa Pemakai. Untuk menjadi Bangsa Penemu, jadilah Bangsa Berilmu. Bangsa berilmu hanya ada jika bangsa itu mau membaca buku.
Cara mendeteksi sebuah bangsa akan mengalami kemajuan, atau mengalami kemunduran dapat dilihat dari seberapa besar indeks membaca pada generasi/rakyat yang berusia 10 s.d. 30 tahun di Negara itu.

Oleh karena itu, memprediksi sebuah Negara akan mengalami kemajuan dalam kurun waktu 10 s.d. 30 tahun ke depan dapat dilihat dari seberapa besar indeks membaca anak-anak saat ini.

Jika hari ini indeks membaca anak-anak yang duduk di bangku sekolah dari SD sampai perguruan tinggi rendah, jangan berharap banyak 10 s.d. 30 tahun ke depan Indonesia akan menjadi Negara maju.

Terlebih lagi Indonesia pada tahun 2045 akan menerima bonus keunggulan jumlah penduduk produktif. Dimana usuia penduduk produktif pada tahun 2045 lebih besar dibanding penduduk yang tidak produktif. Dalam istilah kependudukan pada tahun 2045 Indonesia akan menerima bonus keunggulan Demografi.

Bagaimana ini bisa terjadi?


Ini terjadi karena pada tahun tersebut angka pekerja produktif hanya menanggung beban pekerja tidak produktif lebih ringan atau sedikit.

Contoh, pada suatu keluarga pada rentang tahun 2000 s.d. 2019 terdiri dari enam anggota keluarga yang terdiri dari :

  • a. Satu orang ayah
  • b. Satu orang ibu
  • c. Empat orang anak


Seandainya pada tahun 2000 sudah mempunyai empat anak, maka diperkirakan kedua orang tua tersebut pada tahun 2000 berumur antara 40 -50 tahun sehingga pada tahun 2045 orang tua tersebut berumur antara 85 – 90 tahun.

Umur 85 – 90 tahun merupakan usia lanjut dan sudah tidak produktif lagi. Maka kedua orang tua tersebut secraa ekonomi menjadi beban keluarga. Sedang empat anaknya pada tahun 2045 jika ia lahir antara tahaun 2000 – 2019, maka empat anak tersebut akan berusia 26 – 45 tahun. Usia 26 – 45 tahun merupkan usia produktif.

Jadi pada tahun 2045 empat anak tadi akan menanggung beban ekonomi orang tuanya yang sudah tidak mampu bekerja lagi. Artinya empat orang anak menanggung beban kedua orang tuanya. Ini yang disebut Indonesia mempunyai keunggulan Demografi dimana usia produktif lebih besar dibanding usia tidak produktif.

Keunggulan demografi ini akan berbahaya jika pada usia produktif, mereka tidak bisa produktif. Kalau hal ini terjadi, justru mereka berpotensi menjadi penyumbang tindak kriminal. Sebab mereka pada usia produktif sangan membutuhkan asupan makan, sandang, papan yang harus dipenuhi. Jika mereka tidak mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhan itu, maka pasti akan berbuat kriminal.

Apa yang akan terjadi?


Yang terjadi adalah mereka akan mudah diprovokasi untuk berbuat kriminal. Ditambah lagi bila mereka yang usia produktif tidak bekerja dan tingkat literasinya rendah, mereka sangat mudah dihasut, mudah dibakar emosinya dan mudah sekali diajak berbuat kurang baik.

Untuk itu Pemerntah harus hati-hati dalam hal mensikapi keunggulan Demografi dan tidak terlalu bangga tentang keunggulan Demografi tersebut. Sebab jika tidak diantisipasi dengan baik, akan ada dampak buruknya, yaitu Negara akan menanggung resiko kriminal dimana – mana yang sangat berbahaya seandainya tingkat literasi usia produktif tersebut rendah.

Bagaimana caranya mengantisipasi?


Salah satu caranya adalah tingkatkan Literasi anak bangsa. Bagaimana Literasi bisa mengantisipasi dampak buruk dari keunggulan Demografi pada tahun 2045?

Kita jelaskan dulu, apa makna literasi ? Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas.

Nah, dari salah satu definisi Literasi di atas, kita dapat menafsirkan, dapat membayangkan, dapat menganalogikan bahwa jika seseorang mempunyai tingkat literasi cukup, orang tersebut tidak mungkin menjadi manusia penganggur atau manusia yang tidak produktif.

Manusia yang menjadi pengangguran disebabkan salah satunya mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan informasi tentang lowongan kerja. Terlebih pada zaman sekarang, semua informasi diinformasikan melalui sosial media. Bagaimana jika generasi kita melek hurufnya masih rendah? Dapatkah mereka bisa mengakses informasi yang berterbaran di media sosial?

Melek huruf berbanding lurus dengan minat baca. Semakin tinggi melek huruf seseorang, semakin tinggi minat baca. Sebaliknya, melek huruf yang rendah maka minat baca semakin rendah pula.

Kemampuan mengakses informasi berbanding lurus dengan tingkat minat baca. Semakin seseorang minat bacanya tinggi maka kemampuan untuk mengakses informasi semakin tinggi.

Hanya dengan membaca, ilmu pengetahuan diperoleh. Pengetahuan seseorang berbanding lurus dengan tingkat seberapa besar minat membaca seseorang. Semakin tinggi minat baca seseorang pasti keilmuan orang tersebut semakin tinggi, sebab dengan membaca orang tersebut telah berkelana dan mendapatkan informasi sangat banyak dari buku yang ia baca.

Dengan mendapatkan ilmu pengetahuan yang berasal dari membaca, maka mereka akan dapat memahami seluruh peristiwa yang terjadi disekeliling dimana seseorang berada. Berkat membaca dan ilmu pengetahuan yang mereka dapat, mereka akan mampu menggunakan keilmuannya tadi untuk digunakaan mengakses informasi yang bertebaran di dunia maya maupun di dunia nyata secara benar dan tidak mudah terperosok ke dalam informasi palsu atau hoax.

Kita semua tidak menyangka kalau pemilik wartel pada sebelum tahun 2000an yang mempunyai keuntungan 20% dari omsetnya akan terlindas HP seperti sekarang. Beda dengan Negara yang rakyatnya mempunyai tingkat literasinya tinggi, mereka sudah bisa memprediksi bahwa 10 s.d. 30 tahun kedepan akan terjadi perubahan sesuatu tentang pola hidup dan kondisi ekonomi sebuah Negara atau di negaranya.

Contoh lain, negara maju seperti di Eropa dan Jepang, mereka bekerja dengan otak mereka. Mereka mengutamakan pembangunan sumber daya manusia terlebih dahulu sebelum membangun fisik. Mereka menyadari bahwa kekuatan otak manusia akan lebih cepat mengubah dunia dibandingkan dengan mengandalkan kekuatan fisik.

Misalnya dulu Bangsa Indonesia yang ada di belahan Sumatera ingin mengetahui informasi dari pulau Jawa harus menunggu berbulan – bulan, karena saat itu informasi yang ditulis lewat surat diantar oleh kantor pos via darat atau kapal laut.

Sekarang dengan kemajuan teknologi informasi yang dikembangkan oleh otak manusia, satu menit informasi dari Jawa dapat diketahui di Sumatera. Bahkan bukan hanya sekedar isi informasi, wajah pemberi informasi sekalipun dapat diketahui saat itu juga.

Dari contoh sederhana di atas, seharusnya kita segera sadar sesadar sadarnya bahwa Literasi sangat penting buat kemajuan, ketahanan, dan kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

0 Response to "Peran Literasi Dalam Kemandirian dan Ketahanan Bangsa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel