-->

Novel Anak: Mendung Belum Tentu Hujan


Novel Anak: Mendung Belum Tentu Hujan

Hari itu matahari wajahnya napak kusam. Di ujung langit sebelah barat bergumpal-gumpal awan bergantungan. Lidahnya menjulur sepanjang jarak antara bumi dan langit.

Anginpun tak mau ketinggalan, mereka berjalan zig-zag membuka pintu, jendela, ranting dan dahan di setiap perkampungan yang aku lalui. Debu di perjalanan di korek-koreknya sehingga debunya mengganggu perjalananku, padahal aku ingin cepat sampai rumah, meskipun rumahku atap terbuat dari ilalang dan dari bambu dindingnya.

Gangguan dari ganda campuran antara awan dan angin seperti ini sudah menjadi teman akrab setiap aku pulang dari sekolah. Bahkan keakrabanku dengan mereka seperti halnya teman bermain di lapangan sepak bola. Nasibku memang tidak sebaik teman-temanku.

Aku ikut kakakku merantau di pulau Sumatera sedang ibu bapakku ada di pulau Jawa. Meskipun nasibku tidak sebaik teman-temanku tapi kebahagianku bersahabat dengan alam membuatku kukuh ingin menjadi anak yang mandiri.

Untuk ukuran seusiaku yang baru berumur 14 tahun yang masih bersekolah kelas 5 Sekolah Dasar, sudah empat atau lima kali pindah sekolah. Karena sering pindah itu seharusnya aku sudah lulus Sekolah Dasar, namun saat ini masih tinggal di kelas lima.

Kepindahanku dari sekolah satu ke sekolah lainya bukan kemauanku melainkan karena keadaan orangtuaku. Ekonomi orangtuaku mulai morat marit setelah ibuku terlambat menuntaskan tugasnya melahirkan anak yang ke sembilan.

Bapakku amat perkasa, beliau mengucapkan sumpah serapah kepada ibuku “Sebelum terlahir anak perempuan harus terus beranak”. Sumpah serapah itu diamini ibuku juga. Terjadilah perang sabil sampai sembilan anak yang terlahir dari rahim yang sama. Perang sabil reda seiring umur Ibuku/ Bapakku mulai menua. Geraknya sudah tidak gesit lagi ditambah sulitnya menghidupi anak yang sudah terkumpul jadi satu tim pemain sepak bola ala kampung.

Keberuntungan Ibu Bapakku mendapatkan rezeki anak 9, tidak di imbangi dengan keberuntungan mendapat rezeki berupa pangan, sandang dan papan. Kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mahluk hidup sembilan anak tadi membuat ibu bapak harus berhenti beranak. Oleh karena itu ibu bapak sering uring-uringan, ngomel kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Uring uringan itu mulai terjadi saat usiaku masih 12 tahun sehingga apapun yang dipersoalkan aku tidak mengerti.

Sejak orangtuaku selalu bertengkar aku tidak mau sekolah. Hari-hari aku pergunakan untuk bermain. Pertengkaran orangtuaku makin lama bukan semakin reda, tetapi semakin sering. Menghadapi situasi seperti itu aku tidak betah di rumah, akhirnya aku minta di ikutkan adik ibuku yang kebetulan tidak mempunyai anak.

Aku bertekad apapun yang terjadi aku harus pergi dari rumah. Aku sudah membayangkan ikut bulekku yang tidak mempunyai anak pasti aku diperhatikan, disayang dan aku berkhayal makananku pasti enak-enak. Karena kepinginnya aku ikut bulekku tiga hari sebelum berangkat aku sudah tidak bisa tidur.

Hari itu tepat pukul tujuh pagi, ibuku mengantarkan aku untuk di titipkan  ke bulekku. Jarak yang ditempuh menuju rumah bulekku saya tidak tahu berapa kilometer, yang jelas ke tempat bulekku ditempuh dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore dengan berjalan kaki.

Berjalan kaki selama itu aku sanggup. Entah ilmu apa yang kudapatkan sampai berjalan sepanjang hari itu aku jalani tanpa mengeluh. Apakah karena aku ingin ada perubahan nasib ? atau karena apa ?.Akupun  tidak ingat lagi. Sesampainya aku di tempat bulekku aku disambut dengan suka cita. Bulekku langsung menciumku meskipun badanku masih bau karena perjalanan jauh.

Babak baru hidupku dimulai. Hari pertama tepat jam tujuh pagi aku diajak paklek ke sawah untuk menghalau burung yang memakan tanaman padinya. Hari kedua, ketiga sampai minggu pertama rutinitasku menghalau burung dengan paklekku selalu berjalan dengan sukses.

Minggu ke dua pikiranku sudah mulai berubah, tidak lagi menyukai kegiatan menghalau burung. Aku ingin bersekolah lagi. Akhirnya aku sekolah lagi di kelas 4 Sekolah Dasar. Saat masuk pertama, aku dianggap orang kota, kebetulan tempat bulekku adalah di desa. Meskipun sudah lama tidak bersekolah aku masih dianggap pandai oleh teman-temanku di desa.

Aku punya bakat alami, yaitu bakat bercerita. Setiap habis sholat mahgrib teman-temanku minta di ceritakan cerita anak-anak. Padahal itu cuma cerita yang aku buat-buat. Tetapi mereka suka mendengarkannya. Hidup di desa sangat menyenangkan karena mempunyai teman sangat banyak. Tidurku tidak pernah di rumah bulek. Tidurku di musholla bersama teman-teman seusiaku.

Kebiasaan sehari-hari sebelum sekolah harus mencari rumput buat ternak. Habis sekolah demikian juga. Jika hari sudah gelap baru ke musholla mengaji. Begitulah kehidupanku selama ikut bulekku.
Perjalanan hidup di desa aku jalani selama satu tahun. Saat aku sudah bisa senang-senang bermain di desa bulekku mendapatkan kabar kalau aku mau dijemput kakakku.

Menurut kabar orangtuaku mau pindah dari Jawa ke Sumatera. Hatiku sedih karena berpisah dengan temanku, tapi aku juga berharap bisa pindah ke tempat yang lebih baik. Sebab di desa bulekku terlalu tertinggal dengan desa lainnya. Jadi menurut pikiranku desa ini tidak bisa untuk tinggal jangka panjang. Itu yang ada dalam pikiranku.

Kabar kedatangan kakakku betul adanya. Aku diajak pulang ke tempat orang tuaku dan seminggu kemudian mau diajak ke Sumatera. Ke Sumatera aku berangkat berempat, sementara ibuku dan adikku tinggal. Jadi yang berangkat ayah, kakak, aku dan adikku. Sebelumnya sudah ada dua orang yang sudah berangat dahulu ke Sumatera yakni kakakku sedang adik-adikku masih belum bisa diberangkatkan. Sebab Bapakku ingin melakukan penjajakan dulu kira-kira baik atau tidak pindah dari Jawa ke Sumatera.

Aku dan adikku yang nomer tujuh yang diajak Bapakku pergi ke pulau Sumatera. Perjalanan Jawa Sumatera saat itu ditempuh tiga hari dua malam dengan menggunakan bus. Itulah pengalaman pertamaku pergi jauh melintasi laut. Sesampainya di Sumatera aku tinggal di rumah kakakku. Setelah tinggal disitu, akupun senang-senang saja. Kehidupan berjalan normal.

Keberhasilan  kakakku ditunjukan ke Bapak, yaitu berupa kebun kopi, kebun lada, sawah dan ladang yang ditanami umbi-umbian. Hari-hari aku jalani. Seminggu, dua minggu sampai hampir setengah tahun. Aku mulai rindu untuk sekolah. Cuma waktunya tidak tepat, karena waktu itu diujung kenaikan kelas. Aku harus menunggu sampai ajaran baru lagi.

Tibalah ajaran baru sekolah. Akupun didaftarkan kakakku kelas 4. Aku tidak bisa ke kelas 5  lantaran tidak memiliki raport kelas 5. Hatiku sedikit sedih, sebab harus mengulang kelas 4 lagi. Tapi apa daya, di sekolahku yang baru jauh lebih maju dibanding SD yang sebelumnya yakni di desa bulekku.

Di SD sekarang bangunannya cukup bagus, muridnya banyak dan letaknya dekat pasar dan kelurahan. Sehingga hari-hari tertentu cukup ramai. Jarak rumah kakakku tempat aku tinggal dengan sekolah kira-kira tujuh kilometer. Dengan melewati perbukitan dan menyebrangi sungai cukup besar. Aku tidak terlalu memikirkan jarak tempuh 14 km pulang pergi untuk masuk sekolah.

Semangatku untuk pintar luar biasa. Meskipun panas, hujan sekalipun, tetap berangkat ke sekolah. Aku tidak mau ketinggalan pelajaran dengan teman di sekolahku. Aku menyadari bahwa teman-temanku di kampungku di Jawa sudah kelas enam sekarang, sedang aku masih kelas empat. Di kelas itu aku nampak bodoh. Kebodohanku terlihat saat aku tidak bisa komunikasi dengan teman-teman. Kebiasaanku di kampung Jawa berkomunikasi dengan bahasa daerah atau bahasa Jawa, sedang di SD ku yang baru memakai bahasa Indonesia bahkan bercampur bahsa melayu, ogan, Lampung dan lain-lain.

Aku tidak putus asa, aku berusaha mencari buku bacaan untuk aku baca. Apapun buku bacaan aku baca. Lama-lama aku bisa mengimbangi kepandaian teman-temanku. Aku bersekolah di SD yang baru ini sudah hampir satu tahun. Saat kenaikan kelas nilaiku bagus aku tidak merasa rugi, meskipun perjuanganku berjalan kaki 14 km setiap hari. Aku harus naik turun bukit dengan jalan kaki untuk sampai di sekolah.

Penderitaanku demi mendapatkan ilmu sudah tidak terhitung banyaknya. Hambatan berupa binatang buas seperti babi hutan, ular dan lain-lain seperti makanan tiap hari. Mental perjuanganku untuk tidak mudah menyerah sudah terbentuk. Hambatan dan tantangan apapun bisa aku atasi. Hanya satu tujuanku aku harus pintar.

Aku sudah kelas 5 sekarang. Kepandaianku melebihi teman-temanku di banding saat masih di kelas 4 dulu. Meskipun aku tidak cukup pintar setidaknya kepandaianku di atas rata-rata. Aku terus belajar, berharap bisa jadi juara. Aku belajar tanpa disuruh, tanpa diawasi. Aku belajar karena kemauanku. Aku sudah betah sekolah di sekolahku yang baru ini. Meskipun jauh dari orang tua hatiku tetap bergembira. Aku menyadari aku memiliki sembilan bersaudara. Aku harus bisa mandiri.
Hari itu aku mendapat kabar kalau Bapakku datang dari Jawa. Hatiku senang sekali. Cuma ibuku belum bisa datang.

Aku tidak tahu apa rencana Bapak datang ke Sumatera. Malam hari habis mahgrib, kakakku dua orang, aku dan adikku dikumpulkan. Bapakku bercerita kalau aku dan adikku mau dibawa ke Jawa lagi. Sebenarnya aku tidak mau, sebab aku malu dengan teman-temanku di Jawa sudah kelas 6 sekarang. Karena Bapakku memaksa akhirnya akupun mengikutinya. Aku bilang sama Bapakku. “ Bapak aku mau pulang ke Jawa tetapi aku harus bisa ikut ujian untuk lulus SD tahun ini.” Bapakku pun menyanggupi untuk mencari cara supaya aku bisa ikut ujian yang diikuti murid-murid kelas 6”.

Kebetulan adik ibukku ada yang jadi kepala sekolah,akupun diperbolehkan untuk mengikuti ujian,setelah mengikuti serangkaian tes pelajaran yang diujikan di sekolah adik ibuku bertugas. Hatiku sedih bercampur bingung,kenapa aku mempunyai nasib seperti ini,sekolah selalu berpindah pindah. Akupun berpamitan dengan teman temanku di SD yang selama ini aku belajar dan bermain, akhirnya tibalah waktunya aku pulang ke Jawa.

Sesampainya di Jawa aku dimasukan ke SD,  di sekolah SD itu yang jadi kepala sekolah adalah adik ibuku, di sekolah yang baru aku bingung,karena sebenarnya aku masih kelas 5,tetapi aku minta langsung kelas 6.

Aku mulai masuk di SD yang baru di Jawa,aku di cemeeh teman teman yang akan mengikuti ujian,aku tidak peduli, dalam hatiku berkata “jangankan manusia yang menakuti aku babi hutanpun pernah aku lawan”

Aku nekat membangkitkan kepercayaan diriku,aku berani berkata ke teman teman yang mau ikut ujian dengan nada sombong “kalian belum pernah keluar kampungmukan ? mentalmu belum seberapa ,pengetahuanmu tentang hidupmu baru sebatas di kampungmu,aku sudah menyebrangi lautan,hayo memang kalian sudah pernah lihat pulau sumatera ?”

Teman temanku terdiam,sejak itulah teman temanku tidak menghinaku lagi.

Aku telah kembali kelingkungan keluarga yang tiga tahun lalu aku tinggalkan, tradisi bertengkar antara ibu dan ayahku sudah berkurang,tetapi penderitaan akibat kekurangan makan,sandang  tetap berlanjut.

Rumah memang tersedia, meskipun harus bercampur dengan sapi dalam satu rumah,pikiranku menerawang ke langit “penderitaanku mungkin tanpa batas, apa memang takdirku menjadi anak kampung harus menderita”  itu pikiranku disela-sela habis belajar.  “ Aku harus keluar dari kampung ini, ikut orang kota sambil bersekolah jika aku lulus SD nanti”,   itu keinginanku dalam lamunanku, mungkinkah anak orang kampung yang miskin harus tetap tinggal di kampung dan berstatus miskin, seingatku meskipun mendung sudah gelap,tidak selalu hujan.

Saat itu aku teringat masa bersekolah di sumatera , “ bukankah yang bisa merubah nasib aku, hanya aku bukan orang lain” . Begitu lamunanku, seandainya aku lulus SD nanti, aku tidak mau memikirkan terlalu jauh nasibku, tujuanku aku harus lulus dulu, setelah itu aku mau sekolah SMP ke kota.

Dalam hatiku sudah ada ketetapan bahwa tidak selamanya mendung itu menjadi hujan, untuk pintar harus belajar, untuk bisa sukses harus belajar, hanya itu rumusnya. Dalam pikiranku terbayang  aku tidak mau menderita seperti ibu bapaku, aku kasihan sama ibu bapaku, aku harus bisa membantu ibu Bapakku jika aku besar nanti.

Sehabis sholat aku berdoa “ yaa Allah yang maha pengasih dan penyayang, kuatkanlah ibu bapakku untuk bisa mengasuh adik adiku yang masih kecil, berikan kekuatan pada aku ya Allah untuk tidak menambahi beban hidup kepada kedua orang tuaku, aku pingin menjadi orang pandai dan berbakti sama orang tua ya Allah, berikanlah kemudahan kepada aku untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, hanya dengan ilmu pengetahuan itu ya Allah aku dapat merubah nasibku.”

Selain berdoa, aku belajar terus setiap ada kesempatan untuk  belajar. Buku buku sekolah yang menjadi catatan pelajaran semua aku baca. Usahaku sudah maksimal ujianpun dimulai. Akupun dapat menjawab semua soal yang ada disoal ujian itu. Usaha dan doa yang aku lakukan terkabul.

Malam itu malam terakhir besok hari pengumuman kelulusan SD diumumkan,  aku berdoa “ya Allah berilah kemudahan kepada diri hamba, luluskan aku dari ujian SD besok pagi, tiada daya dan upaya untuk berhasil kecuali atas izinmu ya Allah”. Begitulah doaku menjelang pengumuman kelulusan SD tempat sekolah.

Doaku dikabulkan Tuhan, aku lulus ujian sekolah dasar. Aku siap mengubah nasib aku, tak takut apa rintangan nanti. Tekadku hanya satu aku harus pintar ! dan aku mempunyai tekad, “aku harus bisa”.

0 Response to "Novel Anak: Mendung Belum Tentu Hujan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel