Sekolah Gratis atau Pencitraan? Slogan Sekolah Gratis Menipu Rakyat


Sekolah Gratis atau Pencitraan? Slogan Sekolah Gratis Menipu Rakyat

Arti pencitraan bisa diartikan, sebuah usaha untuk menunjukkan sesuatu kepada publik secara berlebihan hingga tidak sesuai dengan yang sebenarnya.

Istilah “Pencitraan” sering digunakan dalam bidang politik, seni maupun budaya. Namun, pada hakekatnya istilah pencitraan digunakan untuk menjelaskan bahwa ada usaha yang dilakukan untuk menggambarkan sesuatu atau seseorang menjadi lebih baik di hadapan publik sehingga dapat mempengaruhi opini publik.

Kata Sekolah Gratis adalah sebuah kata yang sangat indah di dengar tapi pahit dirasakan. Indah karena kata gratis bermakna tidak ada bayar. Negara kaya yang nyatanya penduduknya miskin ini, ternyata kata “Gratis” merupakan magnet berdaya lekat atau daya tarik sangat luar biasa. Sehingga tidak heran tokoh politik Indonesia sangat mencintai kata gratis ini.

Contoh kata gratis yang sering kita dengar misalnya pengobatan gratis, pendidikan gratis, ngamen gratis, parkir gratis dan lain sebagainya. Dari empat contoh kata di atas yang betul-betul nyata gratis mungkin hanya satu, yakni ngamen gratis.

Jika ada sebuah pertokoan atau tempat orang sedang berbelanja ataupun rumah makan ada tulisan ngamen gratis, itu bisa bermakna ganda. Satu, bermakna tamu dibebaskan tidak membayar pengamen. Kedua, pengamen tidak perlu ngamen di tempat ini, sebab tidak akan dibayar. Sepertinya kata “Ngamen Gratis” adalah kata jujur dan nyata dilaksanakan di masyarakat.

Berbeda dengan kata “Sekolah gratis, Pengobatan Gratis dan Parkir Gratis”. Tiga kata itu indah di dengar tapi nyatanya pahit dirasakan. Kenapa bisa begitu?

Selidik punya selidik kata itu sering diucapkan lantaran dulunya ada tamu yang datang di Negeri kaya ini, mereka ingin berkuasa dan menggunakan strategi “Pencitraan”. Tamu itu mencitrakan dirinya seorang pemimpin yang akan meringankan beban hidup rakyat Indonesia. Dia akan menggratiskan biaya pendidikan dari SD sampai SMA, menggratiskan biaya pengobatan semua penyakit, jika dirinya berhasil menjadi pemimpin di Negeri ini.

Tamu yang sedang melakukan pencitraan tadi sebenarnya sadar sesadar-sadarnya bahwa yang ia citrakan sulit untuk dilaksanakan. Namun demikian tidak ada kata “tidak bisa” bagi tokoh politik seperti tamu tersebut. Yang penting dicitrakan dulu, urusan menepati janji urusan belakang.

Rakyat Indonesia termasuk rakyat yang mudah menerima “Pencitraan dari para penguasa ataupun calon penguasa”. Sudah berapa kali rakyat ini dikibuli atau tidak menerima seperti yang dicitrakan para penguasa atau calon penguasa saat mereka ingin berkuasa.

Janji-janji yang mereka ucapkan tidak satupun di penuhi. Biasanya para calon penguasa setelah jadi penguasa akan membuat alasan, seolah-olah mereka tidak pernah janji, kalau perlu cari alasan sebanyak-banyaknya, supaya ada alasan kenapa janji itu tidak dilaksanakan.

Demikianlah dampak buruk dari kata “Pencitraan” dalam dunia politik.

Bagaimana dampak buruk pencitraan “Sekolah Gratis” terhadap masa depan Bangsa Indonesia?

Menggratiskan semua komponen pendidikan di Negara Indonesia yang penduduknya mayoritas masih tergolong miskin dan sebagian kecil tergolong sangat kaya sebenarnya bisa dilaksanakan. Apalagi, kekayaan alam Indonesia yang demikian berlimpah-ruah, seharusnya dapat menggratiskan seluruh komponen pendidikan dari SD s.d. SMA, dengan catatan yang menjadi penguasa tidak melakukan korupsi kepada uang Negara.

Jika itu bisa dilakukan yakinlah seluruh komponen pendidikan bisa digratiskan. Tetapi akan terjadi sebaliknya, bila penguasa masih melakukan korupsi, menggratiskan seluruh komponen biaya pendidikan dari SD s/d SMA tidak akan terjadi. Penguasa boleh berkoar sekolah gratis, tetapi itu hanyalah slogan politik pencitraan mereka saja.

Siapa yang paling menderita dengan adanya pencitraan sekolah gratis?


Yang paling menderita dengan pencitraan sekolah gratis adalah rakyat Indoenesia dan para guru yang berada di ruang-ruang kelas sebagai ujung tombak pahlawan kecerdasan bangsa.

Masyarakat Indonesia menderita dikarenakan slogan sekolah gratis itu menyesatkan, membuat bodoh anak-anak. Sebab dengan adanya slogan “Sekolah Gratis” masyarakat dihadapkan pada sebuah pilihan yang harus mereka terima. Yakni kualitas pendidikan.

Masyarakat tidak bisa menuntut kualitas hasil belajar putra-putrinya, sebab sesuatu yang berbau gratis identik dengan bebas tuntutan. Contoh;

  1. Pembagian sembako gratis,
  2. Nonton film gratis,
  3. Makan gratis.


Jadi yang berbau gratis harus apa yang diberikan oleh si pemberi, penerima tidak bisa menawar dan menuntut sebab itu barang gratis.

Sehubungan dengan sekolah gratis juga demikian, jika hal yang demikian diterus-teruskan maka kita sebagai masyarakat Indonesia akan menjadi masyarakat yang tidak bisa menuntut kualitas pendidikan.

Sekolah gratis hanyalah slogan pencitraan, sebab nyatanya disekolah tidak mungkin menggratiskan semua komponen biayanya. Penguasa kita pandai mengucap sekolah gratis, namun sejatinya tidak ada itu realitanya.

Dengan adanya pencitraan “Sekolah Gratis” dikhawatirkan justru ini akan membuat anak-anak Indonesia semakin tidak bermutu hasil proses belajarnya.

Saat ini generasi kita bukannya semakin bisa bersaing dengan generasi Negara lain melainkan justru semakin tertinggal, jika terjadi demikian siapa yang menderita? Masyarakat bukan?

Apa yang di derita oleh guru-guru kita saat ini dengan adanya pencitraan “Sekolah Gratis”?


Guru sulit mengembangkan proses belajar mengajar. Kesulitan ini akibat minimnya bahan ajar dan alat peraga sebagai pendukung untuk memperjelas pelajaran yang disampaikan kepada siswa agar dapat diterima dengan utuh.

Contoh; dalam teori anak harus bisa mengamati sel yang ada pada buah kentang. Namun sekolah tidak mempunyai mikroskop, bagaimana cara melihat sel yang ada pada kentang? Sedang sel itu tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Sel hanya bisa dilihat dengan alat mikroskop. Bagaimana bila hal ini terjadi?
Contoh lain;

  1. Anak-anak wajib belajar Budaya Melayu Riau (Perda Provinsi Riau No.5 Tahun 2018 ) tentang Penyelenggaraan Pendidikan.
  2. Anak-anak wajib membaca buku non teks 15 menit sebelum pelajaran dimulai (Permendikbud No. 23 Tahun 2015) tentang Penumbuhan Budi Pekerti.


  • Pemerintah Provinsi Riau mewajibkan anak-anak wajib belajar BMR sedang Pemerintah Daerah tidak pernah menganggarkan bahan ajar dan belum menyediakan guru serta sarana lainnya. Terus anak-anak dapat bahan ajar dari mana? Kemudian siapa yang mengajar? Kalau toh sudah ada, apakah guru tersebut sudah mempunyai kualifikasi sebagai guru BMR? Bagaimana menentukan uji kompetensi hasil belajar anak-anak? Karena ada slogan sekolah gratis, guru tidak mungkin memungut dana dari anak, terus gimana solusinya? Gurukan yang menderita bukan?
  • Pemerintah gencar-gencarnya melakukan kegiatan peningkatan minat baca dengan cara semua murid 15 menit sebelum pelajaran dimulai wajib membaca buku non teks. Tujuan dari kegiatan ini untuk membiasakan anak-anak gemar membaca. Pertanyaannya;
  • a) Apakah di sekolah yang bersangkutan sudah ada cukup buku-buku bacaan (buku non teks?)
  • b) Kalau belum, anak-anak disuruh membaca buku apa?
  • c) Siapa yang menjadi motor penggerak kegiatan ini?
  • d) Apa penghargaan bagi guru yang aktif dalam program ini?
  • e) Bagaimana pelaksanaan sekolah gratis, jika sarana dan prasarananya tidak ada?


Gurukan yang paling menderita? Guru meminta sumbangan tidak mungkin, lantaran ada slogan “Sekolah Gratis” Negara menuntut anak-anak harus gemar membaca. Sedang pemerintah tidak menyediakan sarana dan prasarana yang dapat mendukung program peningkatan minat baca. Ini contoh kecil bahwa kata “Pencitraan Sekolah Gratis” sangat mensengsarakan guru.

Penderitaan guru semakin menjadi-jadi, karena selain tidak bisa mengembangkan proses belajar mengajar, keterbatasan sarana prasarana, dikit-dikit diancam siswa akibat kebobrokan moral anak didik. Guru tidak memiliki perlindungan terhadap profesi guru. Mendidik siswa yang yang tidak baik moralnya, guru berhadapan dengan aturan lain dimana aturan itu sangat memperlemah posisi kewibawaan seorang guru.

Begitu banyak anak-anak tidak berlaku sopan terhadap gurunya. Bahkan sudah berani memukul gurunya di depan kelas. Apa ini tujuan pendidikan di Negeri ini?

Perubahan sikap perilaku di ruang-ruang kelas seperti ini adalah salah satu dampak dari “Pencitraan” para pemimpin kita yang sok berkuasa, yang tega mengorbankan para guru demi citranya dimata sebagian masyarakat yang mereka tidak mengerti apa itu tujuan pendidikan.

Untuk mengatasi persoalan sebagaimana yang diuraikan di atas, seharusnya hentikan pencitraan dengan kata ”Sekolah Gratis” ganti dengan “Tingkatkan Minat Baca” agar semua anak-anak cerdas dan berilmu. Hanya dengan cara memperbanyak membaca buku, masyarakat bisa cerdas dan tidak gampang menerima slogan-slogan yang berbau pencitraan.

Masyarakat harus sadar sesadar-sadarnya, seluruh gambar, tulisan, kebijakan yang berbau pencitraan hanya akan menipu rakyat saja, semua kegiatan yang dilakukan tidak bisa tidak, mereka penguasa itu menggunakan uang hasil pajak masyarakat. Kritislah agar Negara ini dapat mempunyai pemimpin yang siap bekerja dengan baik dan meninggalkan kegiatan yang hanya berbau pencitraan.

0 Response to "Sekolah Gratis atau Pencitraan? Slogan Sekolah Gratis Menipu Rakyat "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel