-->

Kombinasi Gerakan Literasi Sekolah dengan Gerakan Masyarakat Habis Maghrib Mengaji



Program  Gerakan Literasi Sekolah (GLS) mengacu pada Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, dan gerakan masyarakat habis maghrib mengaji yang dipayungi SK Kemenang RI Nomor 150 Tahun 2013 tentang Pedoman Masyarakat Mahgrib Mengaji berhasil dikombinasikan dalam pelaksanaannya oleh guru Agama Islam SMP se-Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah pada Senin, 20 Januari 2020.

Seluruh guru Agama Islam sepakat melakukan  perubahan terhadap cara belajar siswa dan cara guru  mengajar. Harapan besar agar siswa bisa merdeka belajar dan menjadi guru penggerak sebagaimana yang diharapkan Mendikbud Nadiem Makarim mampu menjadi dorongan untuk seluruh Guru Agama Islam.

PT. Inti Prima Aksara (Inprasa) "Inisiator Gerakan Literasi Nasional" selaku perusahaan penerbitan yang sangat konsen terhadap Gerakan Literasi Sekolah sedang melakukan kegiatan sosialisasi Gerakan Literasi Sekolah Bidang Studi Agama Islam.

Dirut PT. Inti Prima Aksara (Inprasa), Mustajab Hadi

Dirut PT. Inprasa, Mustajab Hadi bertanya, "kapan lagi guru Agama Islam mau berbuat baik dengan cara membuat perubahan cara mengajar layaknya guru penggerak?".

Menurut Mustajab, Program Habis Maghrib Mengaji sudah puluhan tahun sejak keluarnya SK Kemenang RI No.150 Tahun 2013  tentang Pedoman Masyarakat Habis mengaji sampai saat ini belum terlaksana sebagaimana mestinya. Hal itu dapat diketahui karena sampai saat ini masih banyak masyarakat yang bertanya tentang apa dampak positif yang bisa dirasakan, yang bisa dilihat dan perubahan sikap anak didik  seperti apa  yang bisa disaksikan masyarakat setelah program Habis Maghrib Mengaji dicanangkan?.

Menurutnya, pertanyaan masyarakat seperti itu wajar, sebab masyarakat selaku pemilik kedaulatan tertinggi negeri ini harus kritis dan berhak bertanya. Terlebih mengenai anggaran yang telah  dianggarkan wakil rakyat untuk pelaksanaan Gerakan Masyarakat Habis Maghrib Mengaji, masyarakat berhak mengetahui hasilnya.

Mustajab yang juga selaku tim penggerak gerakan literasi sekolah berpendapat, dengan adanya program GLS bidang studi Agama Islam yang memadukan antara GLS dengan Gerakan Masyarakat Habis Maghrib Mengji seluruh pertanyaan masyarakat bisa dijawab. Sebab gerakan yang diinisiasi  PT. Inprasa ini terukur tingkat keberhasilannya baik hasil yang bisa dirasakan, hasil yang bisa dilihat, maupun  dampak perubahan prilaku siswa akibat kegiatan Habis Magrib mengaji. Semuanya dapat disaksikan dan dirasakan oleh masyarakat.

Program ini sangat bagus, mengingat pola asuh siswa yang selama ini diambil oleh lingkungan sekarang diambil alih oleh orang tua, yakni saat anak berada di rumah waktu anak mengaji bersama orang tua, atau saat mengaplikasikan gerakan habis maghrib mengaji.

Mustajab mengenalkan program gerakan literasi Pendidikan Agama Islam yang terukur dan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh komponen masyarakat

Masyarakat dapat mengetahui hasil Program Habis Maghrib Mengaji karena masyarakat memiliki kartu pengendali dari anak anaknya yang bersekolah yang mengharuskan siswa harus meminta tanda tangan kepada orang tua jika sudah hafal surat tertentu.

Kegiatan meminta tanda tangan kepada orangtua sehabis waktu maghrib harus dimaknai bahwa setiap anak yang bertemu dengan orang tua sehabis maghrib, si anak harus mengaji bersama orangtua. Sebagai guru terbaik di rumah orangtua juga menjadi role model bagi anak-anaknya.

Jika peristiwa semacam ini bisa terjadi maka hasil yang akan diperoleh di massyarakat tidak akan ada lagi anak-anak yg berani menyakiti orang tuanya, justru akan tumbuh budi pekerti luhur pada setiap anak. Penumbuhan budi pekerti merupakan tujuan sosialisasi GLS Bidang Studi Agama Islam tingkat SMP Se-Kabupaten Sukoharjo.

0 Response to "Kombinasi Gerakan Literasi Sekolah dengan Gerakan Masyarakat Habis Maghrib Mengaji "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel